Konsep dakwah modern

Selasa, 22 Agustus 2017
INTEPRETASI DA’WAH DALAM MASYARAKAT AWAM

INTEPRETASI DA’WAH DALAM MASYARAKAT AWAM
(Studi Metode Da’wah Kontemporer : Da’wah Bil-Hal)
(Oleh : Jefry Muchlasin ; 29.2.2.7139; Aqidah Filsafat VIII dan disunting oleh KangRosyid media yang dilansir pada, Selasa, 22 Agustus 2017)

A.           PENDAHULUAN
Al-Qur’an tidak mengkhususkan pembicarannya kepada bangsa, suku, agama, rasa ataupun kriteria pada masyarakat tertentu saja. Akan tetapi lebih luas lagi, mencakup segala isi alam dan mahluk ciptaan-Nya. Jika dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia yang secara fitrah telah diberikan kelebihan bila dibandingkan dengan mahluk ciptaan Allah yang lainnya. Oleh karenanya, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya senantiasa melakukan penggalian terhadap sumber-sumber pengetahuan yang baku sehingga ditemukan pemahaman atau pengetahuan-pengetahuan yang baru[1].
Jika kita melihat keadaan zaman globalisasi seperti sekarang ini, yang arus informasi, teknologi, dan ilmu pengetahuannya semakin maju, maka tantangan dakwah Islam pun akan semakin kompleks. Jalan dakwah akan terasa semakin sulit dan berliku[2]. Oleh karena itu, diperlukan orang-orang yang benar-benar siap untuk menjalankan tugas mulia ini. Orang yang menjalanklan tugas dakwah ini sering disebut dengan dai atau juru dakwah. Para dai harus orang yang benar benar mampu untuk menjalankan aktivitas dakwah ini. Seorang dai ibarat seorang dokter, dia hendaknya mampu menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada pada umat. Seorang juru dakwah harus memiliki kepandaian dan kesiapan, serta kemampuan yang diperlukan dalam dakwah sebelum mereka melakukan aktivitas dakwah[3].
Apabila seorang juru dakwah tidak memiliki kesiapan dan kemampuan untuk menjalankan dakwah, kemungkinan besar dakwah yang dilakukan tidak bisa efektif. Kemampuan seperti apakah yang diperlukan oleh seorang juru dakwah?.
Komunikasi dakwah ibarat sebuah bohlam kehidupan, yang memberikan cahaya dan menerangi jalan kehidupan yan glebih baik, dari kegelapan menuju terang benderang, dari sebuah keserakahan menuju kedermawanan, bila mengikuti perkembangan berita diberbagai media tentang prilaku dakwah yang mengarah pada merosotnya nilai moral dan akhlak manusia[4].

B.            PENGERTIAN DA’WAH DAN DA’I
Dakwah dan dai ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Tanpa dai, dakwah tidak mungkin tersebar. Oleh karena itu, dai adalah faktor terpenting dalam dakwah[5]. Dai sering disebut oleh kebanyakan orang dengan sebutan mubaligh, kiai, atau sebutan lainnya. Akan tetapi, sebutan-sebutan tersebut lebih menyempitkan arti dai itu sendiri. Oleh karena itu, pengertian dai perlu diperjelas lagi. Banyak ulama yang mencoba mendefinisikan tentang siapa dai itu. Di antara pendapat-pendapat tersebut antara lain:
a.    Muhamad Abu Fatah Al-Bayanuni dalam bukunya Al Madhol Ila al-’Ilmi da ‘wah1 menjelaskan bahwa kata dai menurut bahasa adalah orang yang melakukan proses dakwah. Dai adalah isim fail dari daa’a, yad’u ditambahkannya ha pada akhirnya untuk muballaghoh atau yang menunjukkan arti sangat. Oleh karena itu, orang yang sering berdakwah disebut sebagai dai, sedangkan menurut istilah adalah orang yang menyampaikan ajaran Islam, orang yang mengajarkan Islam, dan orang yang menuntun pada ajaran yang sesuai dengan Islam[6].
b. Menurut M. Natsir yang dikutip oleh Tohir Luth, dai atau juru dakwah adalah orang yang membawakan dakwah dengan tujuan membina pribadi dan membangun umat sehingga pribadi dan umat itu  Berkembang maju sesuai dengan hidup manusia yang diridhai oleh kholiknya[7].
c.  Jum’ah Amin Abdul Aziz, dai Ilallah adalah orang yang berusaha mengajak manusia dengan perkataan dan perbuatan kepada Islam, menerapkan  anhaj-Nya, memeluk akidah-Nya, dan melaksanakan syari’at-Nya[8].
Istilah Komunikasi berasal dari istilah yunani kuno yaitu retorika, dan dua ribu tahun yang lalu istilah itu menunjukkan kaepada suatu bidang studi yang di pandang sangat tidak dapat di abaikan dan sangat berharga untuk mencapai sukses dalam masyarakat yunani kuno. Dengan demikian, kita mengenal istilah dakwah, yaitu suatu proses yang setiap muslim dapat mendayagunakan kemampuan masing-masing dalam rangka mempengaruhi orang lain agar bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan mission sacre dari ajaran-ajaran Islam tersebut[9]. Oleh karena itu, semua orang yang menyeru ke jalan Allah atau melakukan kegiatan dakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam rangka mempengaruhi orang lain agar melakukan ajaran agama Islam bisa disebut sebagai dai. Walaupun demikian, kita bisa membagi dai menjadi dua yaitu:

a.             Secara umum; dai adalah setiap muslim atau muslimat yang mukallaf (dewasa), yang bagi mereka kewajiban dakwah merupakan suatu yang melekat tidak terpisahkan dari missinya sebagai penganut Islam, sesuai dengan perintah rasulullah “sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”.
b.             Secara khusus; dai adalah mereka yang mengambil keahlian secara khusus dalam bidang dakwah Islam yang dikenal dengan panggilan ulama, dai, atau mubaligh[10].
Dengan kata lain peranan komunikasi verbal mempunya kedudukan yang urgen dalam keberlangsungan kehidupan manusia dalam berbudaya dan menjalankan tugas sebagai kholifaatul fil ard[11].
Persipan da`wah ini tidak berurutan dari kelompok kesatu lalu kedua dan seterusnya .Tapi suatu prioritas semata,yang kadang-kadang berubah sesuai dengan kondisi dan kedaan yang ada .Seperti kita misalkan betapa banyak memancing ikan kecil dapat paus dan begitu pula seterusnya menjadi seorang da`i yang penuh tantangan dan halangan. Tapi dengan itu semua harus dijalani dengan ketulusan hati dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri[12].

C.           PARADIGMA DALAM DA’WAH
Dari teladan dakwah yang demikian, maka sesungguhnya dakwah bukanlah sekedar retorika belaka, tetapi harus menjadi teladan tindakan sebagai dakwah pembangunan secara nyata. Ini dikarenakan akibat semakin meluasnya dan semakin kompleksnya kebutuhan masyarakat yang perlu menerima dakwah, jadi dakwah harus menjadi “komunikasi non verbal” atau dakwah bi al-hal. Dalam artian bahwa, lembaga tidak hanya berpusat di masjid-masjid, di forum-forum diskusi, pengajian, dan semacamnya. Dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan. Ia harus berada di bawah, di pemukiman kumuh, di rumah-rumah sakit, di teater-teater, di studio-studio film, musik, di kapal laut, kapal terbang, di pusat-pusat perdagangan, ketenagakerjaan, di pabrik-pabrik, di tempat-tempat gedung pencakar langit, di bank-bank, di pengadilan dan sebagainya.[13]

Model dakwah yang dilakukan secara verbal, oratorik dengan teks-teks al Qur’an dan Sunnah menempatkan dakwah dan pelakunya eksklusif selain menyimpang dari rahmatan lil ‘alamin dan juga dari tradisi kenabian Muhammad SAW. Hal itu meyebabkan kegagalan menampilkan Islam sebagai sesuatu yang menarik dan baik bagi semua orang dalam ragam hirarki keagamaan (santri abangan) faham keagamaan, golongan dan kelas. Bahkan merangkap Islam menjadi agama elit yang tidak terbuka bagi orang awam dan si miskin serta hanya beredar di dalam dirinya sendiri[14].
Karenanya dakwah penting mempertimbangkan tujuan lebih luas yang bisa diperankan hampir semua orang yang berminat menebarkan praksis, dan praktik kebaikan, keadilan, kesejahteraan, dan kecerdasan. Dakwah adalah kegiatan seni-budaya, politik, penelitian dan pengembangan iptek, produksi, pemasaran, jasa dan perdagangan, pendidikan, dan pers serta pembelaan mereka yang tertindas, melarat dan kelaparan. Dakwah bukan hanya khutbah, pengajian dan kepesantrenan atau hanya bagi lembaga dengan nama resmi Islam yang hanya melibatkan suatau kelas keagamaan (santri) [15].
Dakwah seyogyanya diletakkan di atas fondasi promosi kemanusiaan sehingga memperoleh kemajuan empiris di bidang kesehatan mental dan jasmani, ekonomi, hak politik, cita rasa budaya, kecerdasan emosi dan pikiran, kekayaan informasi serta sikap kritis. Dengan dakwah orang bisa melampaui batas dan perangkap materialisasi sistem, negara dan syari’ah, untuk sampai ke suatu fase spiritual dan metafisis yang bebas di antara sesama dan dihadapan Tuhan[16].
Konsep dakwah juga adalah dakwah yang tidak menyempitkan cakrawala umat dalam emosi keagamaan dan keterpencilan sosial. Dakwah yang diperlukan adalah dakwah yang mendorong perluasan partisipasi sosial. Dakwah demikian juga akan memenuhi tuntutan individual misalnya, untuk saling menolong dalam mengatasi perkembangan atau perubahan sosial yang kian cepat.
Dalam persiapan untuk mulai melaksanakan dakwah bi al-hal diperlukan:
1.       Adanya badan atau kelompok  orang yang terorganisasi, walaupun kecil dan sederhana.
2.      Adanya tenaga potensial, terdiri dari beberapa orang dengan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing seperti: tenaga pengelola/koordinator tenaga pelaksana di lapangan yang akrab dengan pekerja-pekerja sosial, tenaga yang berpengetahuan, tentang kesehatan, gizi, pertanian, koperasi dan sebagainya, dan tenaga mubaligh atau guru agama, dan yang terakhir tetapi sangat penting ialah tenaga penghimpun dana[17].
3.       Adanya dana dan sarana-sarana yang diperlukan.
4.    Adanya program walaupun sederhana, yang disusun berdasarkan data-data tentang sasaran yang dituju dan sebagainya.
5.      Adanya kontak-kontak terlebih dahulu dengan sasaran yang dituju, dengan instansi-instansi dan orang orang yang terkait.

D.           PROBLEMATIKA DA’WAH DI ERA KONTEMPORER
Metode dakwah Rasulullah SAW pada awalnya dilakukan melalui pendekatan individual (personal approach) dengan mengumpulkan kaum kerabatnya di bukit Shafa. Kemudian berkembang melalui pendekatan kolektif seperti yang dilakukan saat berdakwah ke Thaif dan pada musim haji.
Ada yang berpendapat bahwa berdakwah itu hukumnya fardhu kifayah, dengan menisbatkan pada lokasi-lokasi yang didiami para dai dan muballigh. Artinya, jika pada satu kawasan sudah ada yang melakukan dakwah, maka dakwah ketika itu hukumnya fardhu kifayah. Tetapi jika dalam satu kawasan tidak ada orang yang melakukan dakwah padahal mereka mampu, maka seluruh penghuni kawasan itu berdosa di mata Allah. Dengan demikian sebenarnya dakwah merupakan kewajiban dan tugas setiap individu. Hanya dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi di lapangan.
Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam mendapatkan hiburan (entertainment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin membuka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika. Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan Internet, dan sebagainya[18].
Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu[19].
Problematika dakwah tidak semakin kusut dan berlarut-larut, perlu segera dicarikan jalan keluar dari kemelut persoalan yang dihadapi itu. Dalam konsep pemikiran yang praktis yang perlu diselesaikan, agar dakwah Islam di era informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif[20].

Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru akwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), biliqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions,speak louder than word[21].
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai[22]. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat „invasi‟ nilai-nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh (al-hususn al-hamidiyyah) dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insyaAllah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.

E.            KESIMPULAN
Dakwah Islam harus dilakukan dengan upaya yang seriaus dan tidak hanya cukup dilakukan dengan dakwah bil lisan, dakwah yang dibutuhkan adalah kerja nyata yang mampu menimbulkan perubahan perubahan.
Sosial kemasyarakatan dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan umat. Dakwah bil hal  diharapkan menunjang segi-segi kehidupan masyarakat, sehingga pada akhirnya setiap komunitas memiliki kemampuan untuk mengatasi kebutuhan dan kepentingan anggotanya, khususnya dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat. Sebagai catatan akhir ketika masyarakat sekarang ini sedang dilanda berbagai ketimpangan, kesenjangan baik sosial, politik maupun ekonomi maka gerakan-gerakan dakwah Islam dituntut untuk lebih tampil sebagai pemandu dan pembimbing masyarakat dan pengayom.
Dai sebagai komunikator memegang peranan penting dalam keseluruhan pekerjaan penerangan dan dakwah. Ia merupakan ujung tombak suksesnya dakwah. Untuk menyukseskan pesan komunikasi dakwah, maka upaya upaya yang harus dilakukan meliputi: membuat perencanaan dan persiapan yang mantap, menetapkan teknik penyajian dakwah yang efektif, memiliki dan memilah materi dakwah dan menerapkan teknik presentase yang baik.
Dakwah berarti mengajak manusia dengan cara bijaksana dan baik ke jalan yang benar dan diridhoi Allah swt, tentunya harus dilaksanakan dengan berdasarkan petunjuk Al Qur’an dan hadist rasulullah saw diformulasikan dengan prinsip-prinsip komunikasi, sehingga harapan sampainya dakwah kepada khalayak (komunikan) akan membuahkan hasil secara maksimal dan baik.

F.            Referensi
Jurnal Stimuli Ilmu Komunikasi, ISSN. 2088-2742, Edisi II, Juli-Desember 2011.
Kompetensi juru dakwah ditulis oleh Nawawi, KOMUNIKA, Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto, Vol.3 No.2 Juli-Desember 2009.
Ahmad Tirtosudiro. Modal Pembangunan Qaryah Thayyibah, Cet. I. Jakarta: Intermasa, 1997.
H.S. Prodjokusumo, "Dakwah bi al-Hal Sekilas Pandang", dalam, Tuntunan Tablig 1, Yogyakarta: Pustaka Suara Muhammadiyah, 1997.
Abu Fatah al Bayanuni, Al Madhol ila ‘Ilmi Da’wah(Madinah: Muassasah al Risalah, TT).
Thohir Luth, Muhamad Natsir dan Pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani, 1999).
Jum’ah Amin Aziz, Fiqh Dakwah, (Solo: Inter Media, 1997),
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997).
Abdullah Nashih Ulwan,. Pendidikan Anak Menurut Islam, Kaidah-Kaidah Dasar Cet. I. Bandung; Remaja Rosda Karya, 1992.
Andi Abdul Muis, Komunikasi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001).
Abdul Munir Mulkhan, Teologi Kiri Landasan Gerakan Membela Kaum Mustadl’afin, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002).
Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, Cet.I, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2000.
Asmuni Syukir. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam Cet. I. Surabaya: Al-Ikhlas, 1983.
A.W Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Cet. I. Jakarta: Bina Aksara, 1986.
Machbuhin. Metodologi Siaran Keagamaan Melalui Radio dan Relevisi. Jakarta; Proyek Penerangan, Bimbingan dan dakwah/ Khutbah Agama Islam Dep. Agama RI, 1981.

~kangrosyid~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Aku Harus Ada di Dunia INI??!

Apa gunanya???